aku mendapati diriku luruh bersama derasnya hujan.
Genangan air seakan ingin menganyutkanku,
membawa pergi sisa kekuatan yang tertinggal.
Saat tersadar,
semua tak lagi kembali seperti sedia kala.
Awan masih mendung, seolah turut berkabung,
menemani nisan yang ternodai warna tanah.
Hujan terus bertetes,
membuat gundukan itu tak kunjung mengering.
Kembali luruh asaku
pada sebuah pengharapan semu.
Ternyata kenyataan memang begitu kejam—
pahit dan getir berjalan bersamanya.
Orang-orang berkata
mimpi buruk hanyalah bunga tidur.
Namun kini aku mengerti,
kadang mimpi buruk itu nyata,
dan aku sedang berdiri tepat di hadapannya.

Tidak ada komentar
Posting Komentar