Selasa, 24 Maret 2026

Kita yang Selalu Kembali

 Kali ke berapa pun,

selama itu kamu,

akan kulakukan.

Mari kembali bertemu,
tanpa perlu perkenalan.

Mari kembali bertemu,
dengan memori—
ke berapa pun
kita pernah berjumpa.

Riuh Dalam Diam

 Si paling ramai

belajar menjadi paling diam.

Belajar lebih tahu diri,
belajar banyak
untuk tak lagi berisik.

Kini hidupnya dihabiskan
dalam diam dan termenung,
mendengarkan isi kepala
yang berdesakkan
ingin didengar.

Riuh—
begitu riuh.

Yang Pernah Menjadi Segalanya


 Kamu

yang sempat menjadi segalanya,

lantas menguap—
hilang,
tak lagi terasa.

Berubah menjadi angan
yang harus kupupuk
dalam ingatan.

Jika Tak Bisa Melupakan


 Jika melupakanmu menjadi hal yang rumit,

maka akan kubenci dirimu—

hingga yang tersisa hanyalah amarah
yang kuingat tentangmu.

Sudah puas
menjadikanku
seputus asa ini?

Tak Semua Menginginkanmu

Mari duduk sejenak,

hirup dalam udara ini,
lepaskan segala sesak itu.

Berhenti berusaha sekeras itu—

apa kamu batu?

Kamu hanya seonggok manusia.
Ingat,
berjuang itu ada batasnya.

Jangan menjadi tanpa batas
untuk mereka
yang jelas telah membuat batas
untuk kehadiranmu.

Karena tak semua orang menginginkanmu
sebesar kamu menginginkan mereka.

Yang Tak Ingin Jadi Kenyataan


Mimpi yang akan selalu kutolak
menjadi kenyataan.

Kamu adalah wajah terpendam
yang tak ingin kuabadikan.


Ia Yang Masih Hidup

Dulu pernah kutuliskan kisah
tentang seorang gadis belia
yang babak belur
dihajar habis-habisan oleh takdir
semesta seolah membencinya
aku bahkan mengira
ia tak akan bertahan lama
namun ternyata—
ia masih hidup dengan baik
meski tidak dengan jiwanya

Terbiasa Sepi

Apa aku sedih melihatnya pergi?

Entahlah—rasanya hambar
Tak ada kesedihan yang benar-benar terasa
Karena aku sudah terbiasa
sepi dalam kesendirian
Sebelum semua orang pergi,
aku sudah terlalu lama sendiri

Sebelum Sempat Ada

Kukira aku lupa

bagaimana rasanya kehilangan
Namun detik ini aku tersadar—
aku bahkan tak sempat memiliki apa pun
saat kehilangan itu datang

Aku Yang Baru Kukenal

Ternyata,

aku baru tahu
bahwa aku berhak untuk hidup
aku berhak untuk ada
Terlalu lama aku mengabaikan diriku sendiri
hidup dalam bayang-bayang
menjadi mimpi bagi orang lain
sementara aku lupa
bahwa aku adalah pemilik dari diri ini
Aku tak sempat menyadari
bahwa aku sudah cukup pantas
untuk berjuang demi diriku sendiri
Ternyata,
butuh waktu selama itu
untuk aku mengerti
bahwa aku pun boleh bermimpi
dan mewujudkannya
menjadi nyata

Rumah yang tinggal Nama

Takbir berkumandang,

namun hatiku layu
tak lagi merekah seperti tahun-tahun sebelumnya

Ke mana aku harus pulang?
Apakah aku masih punya rumah?

Yang tersisa di pandanganku
hanyalah papan nama yang usang
tanpa dekap yang dulu hangat

Aku bahkan mulai lupa—
hangatnya,
wanginya,
suaranya

Tuhan,
di malam dengan gema takdir ini
bolehkah Engkau kembalikan sejenak
kenangan itu?

Hangat itu,
wangi itu,
dan suara yang pernah memanggilku pulang
Tuhan,

izinkan aku untuk tidak lupa
sebab kini hanya kenangan itu yang bisa kupeluk
hanya itu yang masih kumiliki

Doa Yang Retak


Tuhan,
Engkau sang pemberi hidup
dan merenggutnya perlahan dari dada

Engkau yang membolak-balikkan hati,
namun mengapa hatinya tak pernah kembali padaku?

Aku memanggil-Mu dalam sunyi
namun yang datang hanya gema luka
yang terus mengulang namanya

Mengapa Engkau pisahkan kami
jika bukan untuk benar-benar menghapusnya?

Atau aku yang terlalu hina
untuk menerima takdir-Mu tanpa bertanya?

Tuhan,
jika ini adalah akhir yang Kau tulis
maka jangan sisakan apa pun
jangan biarkan aku hidup
dengan separuh hati yang masih mencarinya

Cabutlah rasa ini sampai ke akarnya
biarkan aku kosong
meski harus kehilangan diriku sendiri

Biarlah aku kembali menjadi laut yang tenang tanpa pernah risau akan bayangnya lagi

Ketidakpastian Yang Tersisa

Apa yang kulakukan—benarkah itu?

Masih adakah alasan untuk keberadaanku?
Luka dan kenangan
membabat habis diriku,
menyisakan
kesedihan dan rasa bersalah.
Aku berdiri
di genangan duka,
di lubang-lubang luka
yang tak kunjung kering.
Tatapan mata itu
telah kehilangan binarnya.
Hangat mentari pun
tak lagi mampu kurasa.
Kini—
semua suara,
semua lagu,
semua riuh
menjelma sunyi.
Di masa yang kuciptakan sendiri ini,
hanya suaramu yang kucari.
Namun yang tersisa
hanyalah angan—
sebab hadirmu
telah berubah
menjadi ketidakpastian.

Minggu, 22 Maret 2026

Kenapa Nonton Drakor Bisa Jadi Healing untuk Ibu Bekerja?

 Menjadi ibu sekaligus pekerja bukanlah hal yang mudah. Setiap hari diisi dengan rutinitas yang padat—mulai dari mengurus anak, menyelesaikan pekerjaan, hingga mengatur kebutuhan rumah tangga. Di tengah semua itu, rasa lelah sering datang tanpa permisi.

Di sinilah hal sederhana seperti menonton drama Korea atau drakor bisa menjadi “tempat pulang” sejenak.

🎬 1. Memberi Waktu untuk Diri Sendiri

Bagi banyak ibu, waktu untuk diri sendiri adalah hal yang langka. Menonton drakor, meski hanya satu episode, bisa menjadi momen me time yang berharga. Duduk sebentar, menikmati cerita, dan melupakan sejenak tanggung jawab bisa membantu mengisi ulang energi.

💭 2. Pelarian Sehat dari Rutinitas

Drakor menawarkan cerita yang beragam—romantis, kehidupan, hingga perjuangan hidup. Tanpa disadari, kita ikut terbawa suasana. Ini bukan berarti lari dari masalah, tapi memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat.

❤️ 3. Menghadirkan Emosi yang Terpendam

Terkadang, menjadi ibu membuat kita menahan banyak perasaan. Lewat drakor, kita bisa tertawa, menangis, bahkan merasa dimengerti. Hal ini bisa menjadi cara sederhana untuk melepaskan emosi yang selama ini dipendam.

🌱 4. Memberi Perspektif Baru

Banyak drakor yang menyelipkan pesan kehidupan. Dari sana, kita bisa belajar tentang kesabaran, hubungan, hingga arti perjuangan. Hal-hal kecil ini seringkali memberi semangat baru untuk menjalani hari.

✨ 5. Pengingat Bahwa Kita Juga Butuh Bahagia

Di balik semua peran yang dijalani, seorang ibu tetaplah manusia yang butuh istirahat dan kebahagiaan. Menonton drakor bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk mengingatkan bahwa kita juga berhak merasa senang.


🌼 Penutup

Menonton drakor bukan sekadar hiburan. Bagi ibu bekerja, ini bisa menjadi bentuk self-healing yang sederhana namun bermakna. Tidak perlu lama, tidak perlu mahal—cukup meluangkan sedikit waktu untuk diri sendiri.

Karena pada akhirnya, ibu yang bahagia akan menciptakan keluarga yang lebih hangat.


-estehtanpagula (23 Maret 2026)-

Senin, 16 Maret 2026

JERIT LUKA


Kabarnya kini kau menjadi badai dalam dirimu
Awalnya hanya hembusan pelan
Hingga akhirnya
Menjadi angin kencang
Yang memporak-porandakan diriku
Kabarnya waktunya tak lama
Namun sakitnya abadi
Kabar buruknya
Aku kalah oleh sakit karenamu

SELAMAT BERPULANG

Waktu berjalan,
mengikis sisa-sisa kehidupan.

Kehadiran yang dulu diperjuangkan,
keadaan yang sempat diabadikan—
perlahan berakhir,
termakan waktu.

Dan akhirnya kembali
kepada Sang Maha Hidup.

Kini aku mengerti
kata-kata lirih yang terucap kala itu:
“Mama sudah pulang.”

BELENGGU KERAMAIAN

Kala keramaian datang,
datang dengan riuh yang berisik,
kutemui diriku sendiri—
namun tak kudapati lagi dirimu di sisiku.

Pandangan-pandangan kosong berlarian,
memori-memori saling berkejaran.
Namun tetap saja
tak kutemukan lagi kamu.

Aku hanya terdiam.
Tatapanku terus berkeliaran,
menyusuri setiap wajah demi wajah,
mencari sebuah kehadiran—

HUJAN HARI ITU

Hari ketika kamu pergi,
pergi yang tak akan mampu lagi kugapai.

Hari itu,
untuk pertama kalinya
aku kembali sendiri di tengah keramaian.

Genggaman hangat itu
perlahan berubah menjadi dingin.
Memori yang dulu hangat
akan usang,
termakan waktu.
© Estehtanpagula
Maira Gall