Waktu berjalan,
mengikis sisa-sisa kehidupan.
Kehadiran yang dulu diperjuangkan,
keadaan yang sempat diabadikan—
perlahan berakhir,
termakan waktu.
Dan akhirnya kembali
kepada Sang Maha Hidup.
Kini aku mengerti
kata-kata lirih yang terucap kala itu:
Pulang yang benar-benar pulang—
bukan pulang kepada kami,
melainkan pulang
kepada Pemilik kehidupan.
Perjuanganmu telah usai.
Takkan ada lagi ruang dingin
dengan detak jantung yang lirih.
Tak ada lagi rintihan kesakitan.
Selamat berbahagia
di tengah keabadian.
Selamat jalan,
dan selamat pulang.
Takkan ada sakit yang sia-sia.
Takkan ada doa yang terabaikan.
Rindu kita
akan menjadi abadi,
meski masih tersisa pilu
setiap kali mengenangmu.

Tidak ada komentar
Posting Komentar