Masih adakah alasan untuk keberadaanku?
Luka dan kenangan
membabat habis diriku,
menyisakan
kesedihan dan rasa bersalah.
Aku berdiri
di genangan duka,
di lubang-lubang luka
yang tak kunjung kering.
Tatapan mata itu
telah kehilangan binarnya.
Hangat mentari pun
tak lagi mampu kurasa.
Kini—
semua suara,
semua lagu,
semua riuh
menjelma sunyi.
Di masa yang kuciptakan sendiri ini,
hanya suaramu yang kucari.
Namun yang tersisa
hanyalah angan—
sebab hadirmu
telah berubah
menjadi ketidakpastian.

Tidak ada komentar
Posting Komentar